Senin, 30 April 2018

Bung Karno & Anak Haram Revolusi.

Bagian Pertama
Setelah Soekarno memegang jabatan sebagai Presiden Seumur hidup sesungguhnya kondisi Indonesia bukannya makin membaik tapi malah menjadi lebih buruk lagi. Keadaan ekonomi makin buruk dan menyedihkan, jaringan jalan terabaikan, pembangunan berhenti akibat ketiadaan modal dan pinjaman luar negeri justru digunakan untuk memperkuat angkatan perang. Sebagai contoh, menurut nilai tukar resmi satu dolar US dihargai Rp. 45,00, namun pada faktanya untuk satu dolar, orang pada waktu itu harus mengeluarkan Rp. 8.500,00 karena inflasi melonjak hingga 660%, yang menyebabkan beras pada tahun 1965 naik tajam sebesar sembilan kali lipat.

Tidak ada satupun kebijakan yang diambil Soekarno untuk meredam ekonomi yang buruk itu, dia malah meningkatkan politik konfrontasi terhadap Malaysia untuk mengalihkan perhatian dalam negeri dari keadaan ekonomi dan negara yang memburuk. Selain itu demi menjaga jabatannya, dia sengaja memelihara suasana ketegangan yang sangat panas antara PKI dengan Angkatan Darat dengan harapan keduanya ditempatkan dalam posisi yang tidak nyaman sementara dia berdiri seolah-olah sebagai penengah. Politik adu domba antara Angkatan Darat dan PKI ini sudah dipikirkan Soekarno sejak peristiwa "pembangkangan" oleh AH Nasution yang mengarahkan tank ke Istana Merdeka menuntut Soekarno membubarkan parlemen yang merusak Indonesia.

Untuk menambah panas suasana, Soekarno malah menggunakan isu "Angkatan Ke 5" sebagai bensin dengan alasan mempersenjatai petani dan orang sipil akan baik dalam rangka konfrontasi. Padahal Angkatan Kelima ini dibentuk untuk memberi tekanan kepada Angkatan Darat yang sangat kritis terhadap hubungan Soekarno dan PKI waktu itu. Bagi PKI, Angkatan Kelima akan menjadi alasan untuk mempersenjatai konstituen alami mereka, Buruh dan Tani. Hal ini sangat diharapkan PKI sebab PKI tidak memiliki sayap paramiliter untuk menghadapi Angkatan Darat bila PKI melaksanakan keinginan mereka untuk memberontak.

Selain itu rasa paranoid Soekarno juga menyebabkan dia mempercayai fitnahan Soebandrio tentang keberadaan Dewan Jenderal dan kerja sama Angkatan Darat dengan Inggris untuk menggulingkan Soekarno. Padahal belakangan terbukti, bukti-bukti yang disampaikan Soebandrio itu palsu, dan merupakan rekayasa dari PKI yang dibantu oleh dinas rahasia Cekoslovakia dan Uni Soviet. Walaupun demikian, informasi dari Soebandrio tersebut sudah cukup bagi Soekarno untuk menilai bahwa ada jenderal-jenderal yang tidak loyal kepada garis instruksi Soekarno.


Untuk menindak para jenderal "pembangkang" itu, pada tanggal 31 Juli 1965, Soekarno meminta Soebandrio untuk memanggil pulang Njoto yang sedang berada di Rusia dengan selingkuhannya sekaligus asisten dan penerjemah, Carmel Budiardjo dan memanggil pulang Aidit yang sedang berada di Beijing. Keputusan menindak ini karena Ahmad Yani pada tanggal 30 Juli 1965 mengumumkan bahwa dalam hal apapun Angkatan Darat tidak akan bersedia merundingkan masalah mempersenjatai Buruh dan Tani. Namun sebelumnya Sukarno sudah berusaha meredam kecurigaan Ahmad Yani dengan cara menjanjikan posisi jabatan “Presiden” bila terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Sukarno berdalih seolah kesehatannya mulai menurun.

Selanjutnya, pada tanggal 4 Agustus 1965, Letkol Untung menerima perintah dari Soekarno untuk menindak para jenderal yang tidak loyal. Sampai beberapa saat sebelum dieksekusi, Untung terus mengulangi tentang apa yang pernah disampaikan bahwa ia menganggap tindakan penculikan dan pembantaian para jenderal adalah kehendak presiden dan itu merupakan perintah militer yang harus dijalankan.

Kemudian Letkol Untung yang merupakan murid Alimin itu memiliki kedekatan dengan orang nomor tiga dalam Biro Chusus PKI, Waluyo, dan Untung kemudian meminta bantuan PKI untuk mendukung pemenuhan perintah Soekarno tersebut. Waluyo kemudian mengatur pertemuan antara Untung dengan orang nomor satu pada Biro Chusus, yaitu Syam, yang selanjutnya menghubungi DN Aidit. Setelah menerima informasi dari Syam, DN Aidit lalu mengadakan rapat dengan Politbiro dan Central Committee PKI yang menghasilkan keputusan untuk menunggangi aksi yang sedang direncanakan Untung untuk meluncurkan revolusi dan merebut kekuasaan.

Dari sini bergulirlah tragedi nasional yang sampai sekarang masih terus digunakan para komprandor, antek asing dan negara asing untuk mendiskreditkan Indonesia. Sampai akhir hidupnya Soekarno tidak pernah menyesali keteribatan dirinya dalam tragedi nasional tersebut, bahkan dia menyebutnya sebagai "biasa dalam revolusi, hanya riak kecil dalam samudera luas".

Bisa disimpulkan bahwa Soekarno telah menghancurkan fondasi Indonesia sebagai suatu bangsa dan menghilangkan kesempatan kita untuk menjadi bangsa yang maju. Walaupun Pak Harto telah berhasil memperbaiki beberapa kerusakan atau penyakit yang ditimbulkan oleh Soekarno, namun akhirnya penyakit tersebut seperti tumor, kembali menjalar dan merusak apa yang sudah diperbaiki. Misalnya, peristiwa G30S yang memunculkan banyak sekali anak-anak haram revolusi seperti Budiman Soejatmiko dan kawan-kawan yang justru meluluhlantakan Indonesia pada tahun 1997-1998 saat pemerintah sedang banting tulang mengatasi krisis moneter sehingga kita gagal mengatasi krismon. Perbuatan keblinger anak-anak haram revolusi tersebut masih terus kita rasakan sampai hari ini dengan nilai tukar dolar mencapai Rp. 12.400,00 dan hutang luar negeri mencapai Rp. 3.000.000.000.000.000,00!

Belum lagi anak-anak Soekarno yang merasa ayahnya dizalimi walaupun sesungguhnya Soekarno memang seorang begundal yang sampai hari ini terus melahirkan anak haram revolusi. Anak-anak Soekarno tersebut sampai hari ini masih merasa bahwa mereka berhak mewarisi tahta Soekarno yang diturunkan secara paksa oleh Mahasiswa dan Rakyat waktu itu.

Sebagai perusak Indonesia, maka Soekarno layak dihukum berat, bukan saja diturunkan, tetapi juga seharusnya dipenjara. Karena itu meninggalnya Soekarno di Wisma Yaso sesungguhnya sudah terlalu baik untuk dirinya.

Tulisan ini adalah bagian kedua dan terakhir dari artikel berjudul Soekarno dan Anak-anak Haram Revolusi.

Bagian Kedua.
Pada bagian pertama telah diulas sekilas mengenai bagaimana bayangan atau ingatan historis mengenai Soekarno telah menyebabkan Indonesia terpuruk sampai hari ini. Betapa tidak, romantisme dan bayangan yang penuh imajinasi tentang Soekarno telah membangkitkan jiwa-jiwa para pemuda yang ingin melanjutkan revolusi abadi dari Soekarno dengan mengakar pada komunisme dan marxisme yang bersembunyi di dalam ajaran marhaenisme. Para pengagum Soekarno yang terbuai oleh romantisme palsu tentang Soekarno inilah para anak haram revolusi.

Belajar dari Republik Rakyat China pada masa Mao Tzedong maka terbukti "revolusi" abadi ala Trotsky salah. Suatu negara tidak akan mungkin bertahan bila terus menerus melakukan revolusi. Dua revolusi yang dilakukan RRC pada masa Mao, yaitu "Lompatan Jauh ke Depan" dan "Revolusi Budaya" selain menimbulkan korban jiwa jutaan nyawa manusia, juga telah membawa RRC ke titik nadir yang hampir menghancurkan mereka sebagai suatu masyarakat bila bukan karena reformasi yang membalikan semua revolusi yang diluncurkan Mao dari Deng Xiaoping segera pasca Mao Tzedong meninggal.

Revolusi memang diperlukan untuk mengubah keadaan status quo secara cepat, akan tetapi untuk mencapai tujuan revolusi tersebut tidak bisa dipenuhi dengan revolusi juga, melainkan dengan evolusi, pelahan-lahan dan selangkah demi selangkah. Revolusi adalah ibarat anti biotik, berkhasiat bila digunakan sekali-kali dan pada dosis yang tepat, akan tetapi bila terlalu sering digunakan dapat mengakibatkan penggunanya menjadi kebal terhadap anti biotik atau paling parah membunuh penggunanya karena keracunan anti biotik.

Romantisme palsu tentang Soekarno telah melahirkan para anak haram revolusi yang berpikir bahwa solusi pemecahan masalah terbaik adalah revolusi karena ini ajaran Soekarno, padahal belum tentu dan hampir dapat dipastikan bahwa mereka, para anak haram revolusi tersebut tidak paham mengenai hakekat revolusi. Mereka hanya berpikir bahwa menimbulkan kekacauan, berbuat anarkis, meruntuhkan status quo, "berjuang" adalah revolusi, padahal terdapat perbedaan jelas antara pejuang revolusi dan menjadi pengacau keamanan.

Inilah mengapa orde lama dan masa reformasi kacau serta rusak dimana-mana sebab baik Soekarno maupun para anak haram revolusi ingin semuanya serba cepat dan instan sebagai konsekuensi logis dari revolusi yang sedang mereka lakukan. Inilah juga alasan mengapa orde baru dalam waktu yang kurang lebih sama telah menghasilkan hal-hal yang tidak akan pernah bisa dicapai orde lama dan reformasi, sebab prinsip orde baru adalah evolusi, satu-per-satu dan pelahan-lahan.

Peninggalan Soekarno yang menghancurkan Indonesia bukan itu saja, tetapi si "Bung Besar" ini juga menimbulkan beberapa bom waktu akibat kebijakan "revolusi abadi dan terus menerus" yang dia canangkan selama masa hidupnya. Bom waktu ini secara berkala meledak pada masa orde baru maupun reformasi dan belum dapat dijinakan sampai sekarang. Bom waktu tersebut antara lain adalah masalah korupsi, kolusi dan nepotisme.


Sesungguhnya Soekarno adalah salah satu koruptor terbesar Indonesia namun tertutupi oleh kebijakan Suharto yang berusaha menutupi semua aib busuk kelakuannya dan kematiannya yang menyebabkan Soekarno dipandang sebagai "tragic hero" oleh masyarakat Indonesia padahal dia adalah penjahat. Sejarah seolah melupakan nasib tragis yang dialami St Syahrir yang kematiannya justru sangat mirip dengan kematian Sukarno. Sama-sama ditahan tanpa pernah diadili, sama-sama obatnya dibuang penjaga, sama-sama dirawat seadanya, sama-sama dijenguk Bung Hatta dan sama-sama mati dengan status tahanan. Tidak heran juga, partai yang dibangun Soekarno, PNI yang sekarang bereinkarnasi jadi PDI-P, pada masa orde lama adalah partai paling korup dan menjadi lumbung pengumpul kekayaan haram untuk dibagi-bagikan kepada para pendukung PNI. Korupsi pada masa Soekarno begitu masif dan luas sehingga tidak dapat dibersihkan begitu saja oleh pemerintahan orde baru tanpa "menumpahkan darah" beberapa koruptor di tingkat atas dan bawah, sedangkan hal ini tidak bisa dilakukan karena G30S yang didorong oleh Soekarno telah cukup menumpahkan darah anak bangsa pada masa itu.

Selanjutnya, sebagaimana rakyat Indonesia masa itu dan seperti disimpulkan Roy BB Janis, Pak Harto adalah murid spiritual Soekarno, dan dalam banyak hal cara berpikir Pak Harto adalah cara Soekarno memandang permasalahan, hanya berbeda pada implementasi tersebut. Sebagai contoh, Soekarno sangat senang untuk menyelesaikan masalah secara politik dan bukan secara hukum, itulah sebabnya Soekarno ingin peristiwa G30S diselesaikan secara politik. Bila Angkatan Darat waktu itu kembali memenuhi keinginan Soekarno, maka mungkin sampai sekarang para pelaku tidak akan pernah mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, dan kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi seputar peristiwa G30S.

Sama seperti mentornya, Pak Harto juga cenderung memilih penyelesaian secara politik ketimbang hukum sepanjang dimungkinkan dan pihak pembuat masalah dipandang layak dibantu. Itulah sebabnya Pak Harto melakukan segala daya upaya untuk mencegah Soekarno dimasukan ke pengadilan sekalipun diinginkan oleh AH Nasution dan beberapa pihak di Indonesia waktu itu. Itulah sebabnya Pak Harto membantu agar koruptor besar Pertamina, Ibnu Sutowo tidak diproses karena menurutnya jasa Ibnu Sutowo dan apa yang diberikan Pertamina jauh lebih besar daripada nilai korupsinya.

Mementingkan penyelesaian politik adalah salah satu kesalahan pemerintahan Pak Harto sebab hal semacam ini hanya dapat dilakukan pada masa revolusi dan bukan masa pembangunan. Bila Soekarno diadili maka tidak akan atau setidaknya meminimalisir kemunculan fans Soekarno keblinger seperti Asvi Warman Adam yang mencoba mendistorsi sejarah demi membersihkan nama Soekarno. Begitu juga bila Ibnu Sutowo diadili, maka akan meniadakan kecurigaan bahwa "Cendana" terlibat dalam korupsi Pertamina sehingga seorang Soeharto tidak akan dikait-kaitkan dengan korupsi yang dijadikan bahan propaganda para anak haram revolusi untuk menjatuhkan pemerintahan.

Penyelesaian secara politik yang dilakukan oleh Soekarno dan Pak Harto selama lima puluh tahun lebih telah menyebabkan rakyat Indonesia pada masa reformasi kesulitan membangun budaya hukum yang baik. Para penegak hukum cenderung mempolitisasi kedudukan mereka untuk melakukan pencitraan, seperti yang dilakukan Abraham Samad maupun Artidjo Alkostar, padahal sebagai penegak hukum seharusnya mereka netral dan tidak memihak.

Peninggalan Soekarno lain yang masih "memusingkan" Indonesia sampai sekarang adalah gerakan separatis. Karena Soekarno mendukung PKI demi menjaga kedudukannya dan juga kebijakan sentralistis saat itu telah menyebabkan banyak daerah tertinggal sehingga melahirkan pemberontakan PRRI/Permesta. Gerakan semacam ini terus ada dengan RMS atau OPM. Belum lagi ingkar janjinya Soekarno pada rakyat aceh telah menimbulkan pemberontakan GAM yang baru terselesaikan setelah GAM tersapu tsunami dan perjanjian Helsinski.


Singkat kata, Soekarno telah menghancurkan sendi-sendi Politik, Hukum, Ekonomi dan Budaya bangsa ini dengan begitu hebatnya sehingga kita kehilangan kesempatan untuk menjadi bangsa yang maju kecuali dengan menyingkirkan ingatan buruk dan horor yang telah dilakukan Soekarno. Kita harus mau menerima dan mengakui sejarah kelam bangsa ini dimasa kepemimpinan Sukarno dan menjadikannya sebagai pelajaran pahit untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara.






--00--

--00--