Bagian Pertama
Setelah
Soekarno memegang jabatan sebagai Presiden Seumur hidup sesungguhnya kondisi
Indonesia bukannya makin membaik tapi malah menjadi lebih buruk lagi. Keadaan
ekonomi makin buruk dan menyedihkan, jaringan jalan terabaikan, pembangunan
berhenti akibat ketiadaan modal dan pinjaman luar negeri justru digunakan untuk
memperkuat angkatan perang. Sebagai contoh, menurut nilai tukar resmi satu
dolar US dihargai Rp. 45,00, namun pada faktanya untuk satu dolar, orang pada waktu
itu harus mengeluarkan Rp. 8.500,00 karena inflasi melonjak hingga 660%, yang
menyebabkan beras pada tahun 1965 naik tajam sebesar sembilan kali lipat.
Tidak ada
satupun kebijakan yang diambil Soekarno untuk meredam ekonomi yang buruk itu,
dia malah meningkatkan politik konfrontasi terhadap Malaysia untuk mengalihkan
perhatian dalam negeri dari keadaan ekonomi dan negara yang memburuk. Selain
itu demi menjaga jabatannya, dia sengaja memelihara suasana ketegangan yang sangat
panas antara PKI dengan Angkatan Darat dengan harapan keduanya ditempatkan
dalam posisi yang tidak nyaman sementara dia berdiri seolah-olah sebagai
penengah. Politik adu domba antara Angkatan Darat dan PKI ini sudah dipikirkan
Soekarno sejak peristiwa "pembangkangan" oleh AH Nasution yang
mengarahkan tank ke Istana Merdeka menuntut Soekarno membubarkan parlemen yang
merusak Indonesia.
Untuk
menambah panas suasana, Soekarno malah menggunakan isu "Angkatan Ke 5"
sebagai bensin dengan alasan mempersenjatai petani dan orang sipil akan baik
dalam rangka konfrontasi. Padahal Angkatan Kelima ini dibentuk untuk memberi
tekanan kepada Angkatan Darat yang sangat kritis terhadap hubungan Soekarno dan
PKI waktu itu. Bagi PKI, Angkatan Kelima akan menjadi alasan untuk
mempersenjatai konstituen alami mereka, Buruh dan Tani. Hal ini sangat
diharapkan PKI sebab PKI tidak memiliki sayap paramiliter untuk menghadapi
Angkatan Darat bila PKI melaksanakan keinginan mereka untuk memberontak.
Selain itu
rasa paranoid Soekarno juga menyebabkan dia mempercayai fitnahan Soebandrio
tentang keberadaan Dewan Jenderal dan kerja sama Angkatan Darat dengan Inggris
untuk menggulingkan Soekarno. Padahal belakangan terbukti, bukti-bukti yang
disampaikan Soebandrio itu palsu, dan merupakan rekayasa dari PKI yang dibantu
oleh dinas rahasia Cekoslovakia dan Uni Soviet. Walaupun demikian, informasi
dari Soebandrio tersebut sudah cukup bagi Soekarno untuk menilai bahwa ada
jenderal-jenderal yang tidak loyal kepada garis instruksi Soekarno.
Untuk
menindak para jenderal "pembangkang" itu, pada tanggal 31 Juli 1965,
Soekarno meminta Soebandrio untuk memanggil pulang Njoto yang sedang berada di
Rusia dengan selingkuhannya sekaligus asisten dan penerjemah, Carmel Budiardjo
dan memanggil pulang Aidit yang sedang berada di Beijing. Keputusan menindak
ini karena Ahmad Yani pada tanggal 30 Juli 1965 mengumumkan bahwa dalam hal
apapun Angkatan Darat tidak akan bersedia merundingkan masalah mempersenjatai
Buruh dan Tani. Namun sebelumnya Sukarno sudah berusaha meredam kecurigaan
Ahmad Yani dengan cara menjanjikan posisi jabatan “Presiden” bila terjadi
hal-hal yang diluar dugaan. Sukarno berdalih seolah kesehatannya mulai menurun.
Selanjutnya,
pada tanggal 4 Agustus 1965, Letkol Untung menerima perintah dari Soekarno
untuk menindak para jenderal yang tidak loyal. Sampai beberapa saat sebelum
dieksekusi, Untung terus mengulangi tentang apa yang pernah disampaikan bahwa
ia menganggap tindakan penculikan dan pembantaian para jenderal adalah kehendak
presiden dan itu merupakan perintah militer yang harus dijalankan.
Kemudian
Letkol Untung yang merupakan murid Alimin itu memiliki kedekatan dengan orang
nomor tiga dalam Biro Chusus PKI, Waluyo, dan Untung kemudian meminta bantuan
PKI untuk mendukung pemenuhan perintah Soekarno tersebut. Waluyo kemudian
mengatur pertemuan antara Untung dengan orang nomor satu pada Biro Chusus,
yaitu Syam, yang selanjutnya menghubungi DN Aidit. Setelah menerima informasi
dari Syam, DN Aidit lalu mengadakan rapat dengan Politbiro dan Central Committee
PKI yang menghasilkan keputusan untuk menunggangi aksi yang sedang direncanakan
Untung untuk meluncurkan revolusi dan merebut kekuasaan.
Dari sini
bergulirlah tragedi nasional yang sampai sekarang masih terus digunakan para
komprandor, antek asing dan negara asing untuk mendiskreditkan Indonesia.
Sampai akhir hidupnya Soekarno tidak pernah menyesali keteribatan dirinya dalam
tragedi nasional tersebut, bahkan dia menyebutnya sebagai "biasa dalam
revolusi, hanya riak kecil dalam samudera luas".
Bisa
disimpulkan bahwa Soekarno telah menghancurkan fondasi Indonesia sebagai suatu
bangsa dan menghilangkan kesempatan kita untuk menjadi bangsa yang maju.
Walaupun Pak Harto telah berhasil memperbaiki beberapa kerusakan atau penyakit
yang ditimbulkan oleh Soekarno, namun akhirnya penyakit tersebut seperti tumor,
kembali menjalar dan merusak apa yang sudah diperbaiki. Misalnya, peristiwa
G30S yang memunculkan banyak sekali anak-anak haram revolusi seperti Budiman
Soejatmiko dan kawan-kawan yang justru meluluhlantakan Indonesia pada tahun
1997-1998 saat pemerintah sedang banting tulang mengatasi krisis moneter
sehingga kita gagal mengatasi krismon. Perbuatan keblinger anak-anak haram
revolusi tersebut masih terus kita rasakan sampai hari ini dengan nilai tukar
dolar mencapai Rp. 12.400,00 dan hutang luar negeri mencapai Rp.
3.000.000.000.000.000,00!
Belum lagi
anak-anak Soekarno yang merasa ayahnya dizalimi walaupun sesungguhnya Soekarno
memang seorang begundal yang sampai hari ini terus melahirkan anak haram
revolusi. Anak-anak Soekarno tersebut sampai hari ini masih merasa bahwa mereka
berhak mewarisi tahta Soekarno yang diturunkan secara paksa oleh Mahasiswa dan
Rakyat waktu itu.
Sebagai
perusak Indonesia, maka Soekarno layak dihukum berat, bukan saja diturunkan,
tetapi juga seharusnya dipenjara. Karena itu meninggalnya Soekarno di Wisma
Yaso sesungguhnya sudah terlalu baik untuk dirinya.
Tulisan ini
adalah bagian kedua dan terakhir dari artikel berjudul Soekarno dan Anak-anak
Haram Revolusi.
Bagian Kedua.
Pada bagian
pertama telah diulas sekilas mengenai bagaimana bayangan atau ingatan historis
mengenai Soekarno telah menyebabkan Indonesia terpuruk sampai hari ini. Betapa
tidak, romantisme dan bayangan yang penuh imajinasi tentang Soekarno telah
membangkitkan jiwa-jiwa para pemuda yang ingin melanjutkan revolusi abadi dari
Soekarno dengan mengakar pada komunisme dan marxisme yang bersembunyi di dalam
ajaran marhaenisme. Para pengagum Soekarno yang terbuai oleh romantisme palsu
tentang Soekarno inilah para anak haram revolusi.
Belajar dari
Republik Rakyat China pada masa Mao Tzedong maka terbukti "revolusi"
abadi ala Trotsky salah. Suatu negara tidak akan mungkin bertahan bila terus
menerus melakukan revolusi. Dua revolusi yang dilakukan RRC pada masa Mao,
yaitu "Lompatan Jauh ke Depan" dan "Revolusi Budaya" selain
menimbulkan korban jiwa jutaan nyawa manusia, juga telah membawa RRC ke titik
nadir yang hampir menghancurkan mereka sebagai suatu masyarakat bila bukan
karena reformasi yang membalikan semua revolusi yang diluncurkan Mao dari Deng
Xiaoping segera pasca Mao Tzedong meninggal.
Revolusi
memang diperlukan untuk mengubah keadaan status quo secara cepat, akan tetapi
untuk mencapai tujuan revolusi tersebut tidak bisa dipenuhi dengan revolusi
juga, melainkan dengan evolusi, pelahan-lahan dan selangkah demi selangkah.
Revolusi adalah ibarat anti biotik, berkhasiat bila digunakan sekali-kali dan
pada dosis yang tepat, akan tetapi bila terlalu sering digunakan dapat
mengakibatkan penggunanya menjadi kebal terhadap anti biotik atau paling parah
membunuh penggunanya karena keracunan anti biotik.
Romantisme
palsu tentang Soekarno telah melahirkan para anak haram revolusi yang berpikir
bahwa solusi pemecahan masalah terbaik adalah revolusi karena ini ajaran
Soekarno, padahal belum tentu dan hampir dapat dipastikan bahwa mereka, para
anak haram revolusi tersebut tidak paham mengenai hakekat revolusi. Mereka
hanya berpikir bahwa menimbulkan kekacauan, berbuat anarkis, meruntuhkan status
quo, "berjuang" adalah revolusi, padahal terdapat perbedaan jelas
antara pejuang revolusi dan menjadi pengacau keamanan.
Inilah
mengapa orde lama dan masa reformasi kacau serta rusak dimana-mana sebab baik
Soekarno maupun para anak haram revolusi ingin semuanya serba cepat dan instan
sebagai konsekuensi logis dari revolusi yang sedang mereka lakukan. Inilah juga
alasan mengapa orde baru dalam waktu yang kurang lebih sama telah menghasilkan
hal-hal yang tidak akan pernah bisa dicapai orde lama dan reformasi, sebab
prinsip orde baru adalah evolusi, satu-per-satu dan pelahan-lahan.
Peninggalan
Soekarno yang menghancurkan Indonesia bukan itu saja, tetapi si "Bung
Besar" ini juga menimbulkan beberapa bom waktu akibat kebijakan
"revolusi abadi dan terus menerus" yang dia canangkan selama masa
hidupnya. Bom waktu ini secara berkala meledak pada masa orde baru maupun
reformasi dan belum dapat dijinakan sampai sekarang. Bom waktu tersebut antara
lain adalah masalah korupsi, kolusi dan nepotisme.
Sesungguhnya
Soekarno adalah salah satu koruptor terbesar Indonesia namun tertutupi oleh
kebijakan Suharto yang berusaha menutupi semua aib busuk kelakuannya dan
kematiannya yang menyebabkan Soekarno dipandang sebagai "tragic hero"
oleh masyarakat Indonesia padahal dia adalah penjahat. Sejarah seolah melupakan
nasib tragis yang dialami St Syahrir yang kematiannya justru sangat mirip
dengan kematian Sukarno. Sama-sama ditahan tanpa pernah diadili, sama-sama
obatnya dibuang penjaga, sama-sama dirawat seadanya, sama-sama dijenguk Bung
Hatta dan sama-sama mati dengan status tahanan. Tidak heran juga, partai yang
dibangun Soekarno, PNI yang sekarang bereinkarnasi jadi PDI-P, pada masa orde
lama adalah partai paling korup dan menjadi lumbung pengumpul kekayaan haram
untuk dibagi-bagikan kepada para pendukung PNI. Korupsi pada masa Soekarno
begitu masif dan luas sehingga tidak dapat dibersihkan begitu saja oleh
pemerintahan orde baru tanpa "menumpahkan darah" beberapa koruptor di
tingkat atas dan bawah, sedangkan hal ini tidak bisa dilakukan karena G30S yang
didorong oleh Soekarno telah cukup menumpahkan darah anak bangsa pada masa itu.
Selanjutnya,
sebagaimana rakyat Indonesia masa itu dan seperti disimpulkan Roy BB Janis, Pak
Harto adalah murid spiritual Soekarno, dan dalam banyak hal cara berpikir Pak
Harto adalah cara Soekarno memandang permasalahan, hanya berbeda pada
implementasi tersebut. Sebagai contoh, Soekarno sangat senang untuk
menyelesaikan masalah secara politik dan bukan secara hukum, itulah sebabnya
Soekarno ingin peristiwa G30S diselesaikan secara politik. Bila Angkatan Darat
waktu itu kembali memenuhi keinginan Soekarno, maka mungkin sampai sekarang
para pelaku tidak akan pernah mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, dan kita
tidak akan pernah tahu apa yang terjadi seputar peristiwa G30S.
Sama seperti
mentornya, Pak Harto juga cenderung memilih penyelesaian secara politik
ketimbang hukum sepanjang dimungkinkan dan pihak pembuat masalah dipandang
layak dibantu. Itulah sebabnya Pak Harto melakukan segala daya upaya untuk
mencegah Soekarno dimasukan ke pengadilan sekalipun diinginkan oleh AH Nasution
dan beberapa pihak di Indonesia waktu itu. Itulah sebabnya Pak Harto membantu
agar koruptor besar Pertamina, Ibnu Sutowo tidak diproses karena menurutnya
jasa Ibnu Sutowo dan apa yang diberikan Pertamina jauh lebih besar daripada
nilai korupsinya.
Mementingkan
penyelesaian politik adalah salah satu kesalahan pemerintahan Pak Harto sebab
hal semacam ini hanya dapat dilakukan pada masa revolusi dan bukan masa
pembangunan. Bila Soekarno diadili maka tidak akan atau setidaknya
meminimalisir kemunculan fans Soekarno keblinger seperti Asvi Warman Adam yang
mencoba mendistorsi sejarah demi membersihkan nama Soekarno. Begitu juga bila
Ibnu Sutowo diadili, maka akan meniadakan kecurigaan bahwa "Cendana"
terlibat dalam korupsi Pertamina sehingga seorang Soeharto tidak akan
dikait-kaitkan dengan korupsi yang dijadikan bahan propaganda para anak haram
revolusi untuk menjatuhkan pemerintahan.
Penyelesaian
secara politik yang dilakukan oleh Soekarno dan Pak Harto selama lima puluh
tahun lebih telah menyebabkan rakyat Indonesia pada masa reformasi kesulitan
membangun budaya hukum yang baik. Para penegak hukum cenderung mempolitisasi
kedudukan mereka untuk melakukan pencitraan, seperti yang dilakukan Abraham
Samad maupun Artidjo Alkostar, padahal sebagai penegak hukum seharusnya mereka
netral dan tidak memihak.
Peninggalan
Soekarno lain yang masih "memusingkan" Indonesia sampai sekarang
adalah gerakan separatis. Karena Soekarno mendukung PKI demi menjaga
kedudukannya dan juga kebijakan sentralistis saat itu telah menyebabkan banyak daerah
tertinggal sehingga melahirkan pemberontakan PRRI/Permesta. Gerakan semacam ini
terus ada dengan RMS atau OPM. Belum lagi ingkar janjinya Soekarno pada rakyat
aceh telah menimbulkan pemberontakan GAM yang baru terselesaikan setelah GAM
tersapu tsunami dan perjanjian Helsinski.
Singkat
kata, Soekarno telah menghancurkan sendi-sendi Politik, Hukum, Ekonomi
dan Budaya bangsa ini dengan begitu
hebatnya sehingga kita kehilangan kesempatan untuk menjadi bangsa yang
maju
kecuali dengan menyingkirkan ingatan buruk dan horor yang telah
dilakukan
Soekarno. Kita harus mau menerima dan mengakui sejarah kelam bangsa ini
dimasa kepemimpinan Sukarno dan menjadikannya sebagai pelajaran pahit
untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara.
https://www.kompasiana.com/setiawan_78/soekarno-dan-anakanak-haram-revolusi_552a8a596ea834d41e552d35
--00--
--00--